MAKALAH GEOMORFOLOGI
BENTUK
LAHAN MARINE
Disusun
oleh :
Khatibul Umam 130401050105
Imbar Hafizul Azim 130401050127
Emilia Unte 130401050137
Erlina Budiarti 130401050117
Nur Azizatul Umma 130401050143
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
UNIVERSITAS
KANJURUHAN MALANG
2014
Kata
Pengantar
Puji
dan syukur kami ucapan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya serta kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah
Geomorfologi ini dengan judul “Pembentukan
Marine dan klasifikasi pantai serta hasil bentuk lahan”. Makalah ini
disusun dalam rangka memenuhi tugas dan kewajiban kelompok mata kuliah
Geomorfologi, Program Studi Pendidikan Geografi.
Penulis
menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna
sempurnanya makalah ini.Penulis berharap semoga makalah dapat bermanfaat bagi
kami khususnya dan bagi pembaca umumnya.
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bentuk lahan asal proses
marine dihasilkan oleh aktivitas gerakan air laut, baik pada tebing curam,
pantai berpasir, pantai berkarang maupun pantai berlumpur. Aktivitas marine
sering dipengaruhi aktivitas fluvial sehingga sering disebut sebagai fluvio –
marine. Proses marine mempunyai pengaruh yang sangat aktif pada daerah pesisir
sepanjang pantai.
Aktifitas marine yang utama
adalah abrasi, sedimentasi, pasang-surut, dan pertemuan terumbu karang. Bentu
lahan yang dihasilkan oleh aktifitas marine berada di kawasan pesisir yang
terhampar sejajar garis pantai. Pengaruh marine dapat mencapai puluhan
kilometer kearah darat, tetapi terkadang hanya
beberapa ratus meter saja. Sejauh mana efektifitas proses abrasi,
sedimentasi, dan pertumbuhan terumbu pada pesisir ini, tergantung dari kondisi
pesisirnya.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian bentuk lahan asal Marine?
2. Bagaimana
proses terbentuknya lahan asal Marine?
3. Bagaimana
ciri-ciri dan karakteristik bentuk lahan asal Marine?
4. Apa
saja hasil bentuk lahan asal Marine?
C.
Tujuan Masalah
1. Mengetahui
pengertian bentuk lahan asal marine
2. Mengetahui
proses terbentuknya lahan asal marine
3. Mengetahui
cirri-ciri dan karakteristik bentuk lahan asal marine
4. Mengetahui
hasil bentuk lahan marine.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pembentukan
lahan marine
Geomorfologi
asal marine merupakan bentuk lahan yang terdapat di sepanjang pantai. Proses
perkembangan daerah pantai itu sendiri sangat dipengaruhi oleh kedalaman laut.
Semakin dangkal laut maka akan semakin mempermudah terjadinya bentang alam
daerah pantai, dan semakin dalam laut maka akan memperlambat proses terjadinya
bentang alam di daerah pantai. Selain dipengaruhi oleh kedalaman laut,
perkembangan bentang lahan daerah pantai juga dipengaruhi oleh:
1. Struktur, tekstur, dan komposisi batuan.
2. Keadaan bentang alam atau relief dari daerah pantai atau daerah di daerah sekitar pantai tersebut.
3. Proses geomorfologi yang terjadi di daerah pantai tersebut yang disebabkan oleh tenaga dari luar, misalnya yang disebabkan oleh angin, air, es, gelombang, dan arus laut.
4. Proses geologi yang berasal dari dalam bumi yang mempengaruhi keadaan bentang alam di permukaan bumi daerah pantai, misalnya tenaga vulkanisme, diastrofisme, pelipatan, patahan, dan sebagainya.
5. Kegiatan gelombang, arus laut, pasang naik dan pasang surut, serta kegiatan organisme yang ada di laut.
1. Struktur, tekstur, dan komposisi batuan.
2. Keadaan bentang alam atau relief dari daerah pantai atau daerah di daerah sekitar pantai tersebut.
3. Proses geomorfologi yang terjadi di daerah pantai tersebut yang disebabkan oleh tenaga dari luar, misalnya yang disebabkan oleh angin, air, es, gelombang, dan arus laut.
4. Proses geologi yang berasal dari dalam bumi yang mempengaruhi keadaan bentang alam di permukaan bumi daerah pantai, misalnya tenaga vulkanisme, diastrofisme, pelipatan, patahan, dan sebagainya.
5. Kegiatan gelombang, arus laut, pasang naik dan pasang surut, serta kegiatan organisme yang ada di laut.
B.
Karakteristik
lahan marine/ Pantai
Berdasarkan tahap-tahap
perkembangannya, karakteristik garis pantai dapat dibedakan menjadi beberapa
pengertian, yaitu:
1.Pantai (Shore)
Pantai (shore) adalah daerah yang terletak
antara air pasang dan surut, garis batas darat-laut disebut Shore line
2. Garis Pantai (Shoreline)
Shoreline adalah garis yang membatasi permukaan daratan dan permukaan air. Garis batas ini selalu beruba-rubah sesuai dengan permukaan air laut. Garis pantai tertinggi terjadi pada saat terjadi pasang naik setinggi-tingginya, sedangkan garis pantai terendah terjadi pada saat terjadi pasang surut serendah-rendahnya.
Shoreline adalah garis yang membatasi permukaan daratan dan permukaan air. Garis batas ini selalu beruba-rubah sesuai dengan permukaan air laut. Garis pantai tertinggi terjadi pada saat terjadi pasang naik setinggi-tingginya, sedangkan garis pantai terendah terjadi pada saat terjadi pasang surut serendah-rendahnya.
3. Pantai Depan (Foreshore)
Foreshore adalah daerah sempit yang terdapat pada pantai yang terletak di antara garis pasang naik tertinggi dengan garis pasang surut terendah.
4. Pantai Belakang (Backshore)
Backshore adalah bagian dari pantai yang terletak di antara pantai depan (foreshore) dengan garis batas laut tetap (coastline). Daerah ini hanya akan tergenang air apabila terjadi gelombang pasang yang besar. Dengan demikian daerah ini akan kering apabila tidak terjadi gelombang pasang yang intensitasnya besar. Bentang alam seperti ini biasanya terdapat pada daerah pantai yang terjal, misalnya di pantai selatan Pulau Jawa.
5. Pesisir (Coast) dan Garis Pesisir (Coastline)
Coast adalah daerah pantai yang tidak menentu dan cenderung meluas ke daratan. Sedangkan coastline adalah garis batas laut yang tetap dari pesisir. Daerah pesisir ini mempunyai kemiringan lereng yang landai dengan luas yang tidak begitu besar pada daerah tepi pantai yang sebagian besar merupakan daerah pantai terjal.
6. Endapan Pantai (Beaches)
Beaches merupakan endapan hasil kegiatan laut yang terdapat di pantai. Menurut tempat terjadinya, beaches ini dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
a. Endapan bawah pantai depan (lower forest beach), merupakan jenis endapan yang terdapat di bagian bawah pantai depan. Endapan ini juga merupakan hasil dari kegiatan gelombang dan arus litoral.
b. Endapan atas pantai depan (upper foresher beach), merupakan jenis endapan pantai yang terdapat pada bagian atas pantai depan. Endapan pantai ini terbentuk karena hasil kegiatan gelombang.
c. Endapan pantai belakang (backshore beach), merupakan jenis endapan pantai yang terdapat pada pantai belakang yang sempit. Endapan pantai ini merupakan gabungan dari hasil kegiatan gelombang yang besar, aliran air dari gelombang pasang naik setinggi-tingginya, angin, serta aliran sungai
yang membawa material batuan ke pantai belakang tersebut.
Foreshore adalah daerah sempit yang terdapat pada pantai yang terletak di antara garis pasang naik tertinggi dengan garis pasang surut terendah.
4. Pantai Belakang (Backshore)
Backshore adalah bagian dari pantai yang terletak di antara pantai depan (foreshore) dengan garis batas laut tetap (coastline). Daerah ini hanya akan tergenang air apabila terjadi gelombang pasang yang besar. Dengan demikian daerah ini akan kering apabila tidak terjadi gelombang pasang yang intensitasnya besar. Bentang alam seperti ini biasanya terdapat pada daerah pantai yang terjal, misalnya di pantai selatan Pulau Jawa.
5. Pesisir (Coast) dan Garis Pesisir (Coastline)
Coast adalah daerah pantai yang tidak menentu dan cenderung meluas ke daratan. Sedangkan coastline adalah garis batas laut yang tetap dari pesisir. Daerah pesisir ini mempunyai kemiringan lereng yang landai dengan luas yang tidak begitu besar pada daerah tepi pantai yang sebagian besar merupakan daerah pantai terjal.
6. Endapan Pantai (Beaches)
Beaches merupakan endapan hasil kegiatan laut yang terdapat di pantai. Menurut tempat terjadinya, beaches ini dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
a. Endapan bawah pantai depan (lower forest beach), merupakan jenis endapan yang terdapat di bagian bawah pantai depan. Endapan ini juga merupakan hasil dari kegiatan gelombang dan arus litoral.
b. Endapan atas pantai depan (upper foresher beach), merupakan jenis endapan pantai yang terdapat pada bagian atas pantai depan. Endapan pantai ini terbentuk karena hasil kegiatan gelombang.
c. Endapan pantai belakang (backshore beach), merupakan jenis endapan pantai yang terdapat pada pantai belakang yang sempit. Endapan pantai ini merupakan gabungan dari hasil kegiatan gelombang yang besar, aliran air dari gelombang pasang naik setinggi-tingginya, angin, serta aliran sungai
yang membawa material batuan ke pantai belakang tersebut.
7. Lepas pantai (Off shore)
Lepas pantai adalah daerah yang
meluas dari garis pasang surut terendah ke arah laut, dibedakan:
a. Inshore, meluas dari
garis pasang-surut sampai gosong pasir(bar) atau daerah empasan(breakers).
b. Off shore, meluas di
sebelah luar, araeh ke laut.
C. Klasifikasi lahan marine/ pantai
Antara pantai yang satu dengan
garis pantai yang lainnya mempunyai perbedaan. Perbedaan dari masing-masing
jenis pantai tersebut umumnya disebabkan oleh kegiatan gelombang dan arus laut.
Menurut Johnson, pantai dapat dibedakan menjadi
empat macam, yaitu:
1. Pantai yang Tenggelam (Shoreline of
submergence)
Shoreline of submergence merupakan jenis pantai yang terjadi apabila permukaan air mencapai atau menggenangi permukaan daratan yang mengalami penenggelaman. Disebut pantai tenggelam karena permukaan air berada jauh di bawah permukaan air yang sekarang. Untuk mengetahui apakah laut mengalami penenggelaman atau tidak dapat dilihat dari keadaan pantainya. Naik turunnya permukaan air laut selama periode glasial pada jaman pleistosin menyebabkan maju mundurnya permukaan air laut yang sangat besar. Selain itu, penenggelaman pantai juga bisa terjadi akibat penenggelaman daratan. Hal ini terjadi karena permukaan bumi pada daerah tertentu dapat mengalami pengangkatan atau penurunan yang juga dapat mempengaruhi keadaan permukaan air laut. Pengaruh ini sangat terlihat di daerah pantai dan pesisir.
Pada bentang lahan yang disebabkan oleh proses geomorfologi, pantai yang tenggelam dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Hal ini dapat dilihat dari bentuk pantai yang berbeda sebagai akibat dari pengaruh gelombang dan arus laut. Jenis-jenis pantai tersebut antara lain:
Shoreline of submergence merupakan jenis pantai yang terjadi apabila permukaan air mencapai atau menggenangi permukaan daratan yang mengalami penenggelaman. Disebut pantai tenggelam karena permukaan air berada jauh di bawah permukaan air yang sekarang. Untuk mengetahui apakah laut mengalami penenggelaman atau tidak dapat dilihat dari keadaan pantainya. Naik turunnya permukaan air laut selama periode glasial pada jaman pleistosin menyebabkan maju mundurnya permukaan air laut yang sangat besar. Selain itu, penenggelaman pantai juga bisa terjadi akibat penenggelaman daratan. Hal ini terjadi karena permukaan bumi pada daerah tertentu dapat mengalami pengangkatan atau penurunan yang juga dapat mempengaruhi keadaan permukaan air laut. Pengaruh ini sangat terlihat di daerah pantai dan pesisir.
Pada bentang lahan yang disebabkan oleh proses geomorfologi, pantai yang tenggelam dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Hal ini dapat dilihat dari bentuk pantai yang berbeda sebagai akibat dari pengaruh gelombang dan arus laut. Jenis-jenis pantai tersebut antara lain:
a. Lembah sungai yang tenggelam
Pada umumnya lembah sungai yang tenggelam ini disebut estuarium, sedangkan pantainya disebut pantai ria. Lembah sungai ini dapat mengalami penenggelaman yang disebabkan oleh pola aliran sungai serta komposisi dan struktur batuannya.
b. Fjords(lembah glasial yang tenggelam)
Fjords merupakan pantai curam yang berbentuk segitiga atau berbentuk corong. Fjords atau lembah glasial yang tenggelam ini terjadi akibat pengikisan es. Ciri khas dari bagian pantai yang tenggelam ini yaitu panjang, sempit, tebingnya terjal dan bertingkat-tingkat, lautnya dalam, dan kadang-kadang memiliki sisi yang landai. Pantai fjords ini terbentuk apabila daratan mengalami penurunan secara perlahan-lahan. Bentang lahan ini banyak terdapat di pantai laut di daerah lintang tinggi, dimana daerahnya mengalami pembekuan di musim dingin. Misalnya di Chili, Norwegia, Tanah Hijau, Alaska, dan sebagainya.
Pada umumnya lembah sungai yang tenggelam ini disebut estuarium, sedangkan pantainya disebut pantai ria. Lembah sungai ini dapat mengalami penenggelaman yang disebabkan oleh pola aliran sungai serta komposisi dan struktur batuannya.
b. Fjords(lembah glasial yang tenggelam)
Fjords merupakan pantai curam yang berbentuk segitiga atau berbentuk corong. Fjords atau lembah glasial yang tenggelam ini terjadi akibat pengikisan es. Ciri khas dari bagian pantai yang tenggelam ini yaitu panjang, sempit, tebingnya terjal dan bertingkat-tingkat, lautnya dalam, dan kadang-kadang memiliki sisi yang landai. Pantai fjords ini terbentuk apabila daratan mengalami penurunan secara perlahan-lahan. Bentang lahan ini banyak terdapat di pantai laut di daerah lintang tinggi, dimana daerahnya mengalami pembekuan di musim dingin. Misalnya di Chili, Norwegia, Tanah Hijau, Alaska, dan sebagainya.
c. Bentuk pengendapan sungai
Bentuk pengendapan sungai dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu: (1) Delta, yaitu endapan sungai di pantai yang berbentuk segitiga dan cembung ke arah laut; (2) Dataran banjir, yaitu sungai yang terdapat di kanan dan kiri sungai yang terjadi setelah sungai mengalami banjir; (3) Kipas alluvial, yaitu bentuk pengendapan sungai seperti segitiga, biasanya terdapat di daerah pedalaman, dan ukurannya lebih kecil bila dibandingkan dengan delta, serta sungainya tidak bercabang-cabang.
Bentuk pengendapan sungai dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu: (1) Delta, yaitu endapan sungai di pantai yang berbentuk segitiga dan cembung ke arah laut; (2) Dataran banjir, yaitu sungai yang terdapat di kanan dan kiri sungai yang terjadi setelah sungai mengalami banjir; (3) Kipas alluvial, yaitu bentuk pengendapan sungai seperti segitiga, biasanya terdapat di daerah pedalaman, dan ukurannya lebih kecil bila dibandingkan dengan delta, serta sungainya tidak bercabang-cabang.
d. Bentuk pengendapan glasial
Bentuk pengendapan ini disebabkan oleh proses pencairan es.
Bentuk pengendapan ini disebabkan oleh proses pencairan es.
e. Bentuk permukaan hasil
diastrofisme
Bentuk kenampakan ini dapat diilustrasikan sebagai fault scraps (bidang patahan), fault line scraps (bidang patahan yang sudah tidak asli), graben (terban), dan hocgbacks. Setelah mengalami penenggelaman, fault scraps, fault line scraps, dan dinding graben akan langsung menjadi pantai.
Bentuk kenampakan ini dapat diilustrasikan sebagai fault scraps (bidang patahan), fault line scraps (bidang patahan yang sudah tidak asli), graben (terban), dan hocgbacks. Setelah mengalami penenggelaman, fault scraps, fault line scraps, dan dinding graben akan langsung menjadi pantai.
f. Bentuk permukaan hasil kegiatan gunung api
Jenis pantai yang disebabkan oleh kegiatan gunung api ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
(1) Merupakan hasil kegiatan
kerucut vulkanis (mound), yang menyebabkan terbentuknya pantai yang
cembung ke luar;
(2) Merupakan hasil kegiatan
aliran lava (lava flow), yang menyebabkan terbentuknya pantai yang
cekung ke luar.
2. Pantai yang Terangkat (Shoreline of emergence)
Pantai ini terjadi akibat adanya pengangkatan daratan atau adanya penurunan permukaan air laut. Pengangkatan pantai ini dapat diketahui dari gejala-gejala yang terdapat di lapangan dengan sifat yang khas, yaitu:
a. Terdapatnya bagian atau lubang dataran gelombang yang terangkat
Di daerah ini banyak dijumpai teras-teras pantai (stacks), lengkungan tapak (arches), pantai terjal (cliffs), serta gua-gua pantai (caves).
b. Terdapatnya teras-teras
gelombang
Teras gelombang ini terbentuk pada saat permukaan air mencapai tempat-tempat di mana teras tersebut berada. Teras-teras ini merupakan batas permukaan air.
Teras gelombang ini terbentuk pada saat permukaan air mencapai tempat-tempat di mana teras tersebut berada. Teras-teras ini merupakan batas permukaan air.
c. Terdapatnya gisik
(beaches)
Gisik yaitu tepian laut yang terdapat di atas permukaan air laut yang terjadi karena adanya pengangkatan dasar laut.
d. Terdapatnya laut terbuka
Laut terbuka ini terjadi karena adanya dasar laut yang terangkat.
Gisik yaitu tepian laut yang terdapat di atas permukaan air laut yang terjadi karena adanya pengangkatan dasar laut.
d. Terdapatnya laut terbuka
Laut terbuka ini terjadi karena adanya dasar laut yang terangkat.
e. Garis pantai yang lurus (straight
shoreline)
Erosi gelombang dan pengendapannya pada laut dangkal cenderung menurunkan bentang lahan dan menyebabkan dasar laut dasar laut yang dangkal menjadi datar. Apabila dasar laut yang dangkal tersebut sekarang mengalami pengangkatan, maka garis pantai yang terbentuk akan kelihatan lurus.
Erosi gelombang dan pengendapannya pada laut dangkal cenderung menurunkan bentang lahan dan menyebabkan dasar laut dasar laut yang dangkal menjadi datar. Apabila dasar laut yang dangkal tersebut sekarang mengalami pengangkatan, maka garis pantai yang terbentuk akan kelihatan lurus.
3. Pantai yang Netral (Neutral shoreline)
Jenis pantai ini terjadi di luar proses penenggelaman dan pengangkatan, misalnya pantai yang terjadi pada delta, plain hanyutan, terumbu karang, gunung api, gumuk-gumuk pasir, dan jenis pantai yang merupakan hasil dari sesar (patahan).
Jenis pantai ini terjadi di luar proses penenggelaman dan pengangkatan, misalnya pantai yang terjadi pada delta, plain hanyutan, terumbu karang, gunung api, gumuk-gumuk pasir, dan jenis pantai yang merupakan hasil dari sesar (patahan).
4. Pantai Majemuk (Compound shorelines)
Jenis pantai ini terjadi sebagai gabungan dua atau lebih proses di atas. Berarti dalam suatu daerah bisa terjadi proses penenggelaman, pengangkatan, pengendapan, dan sebagainya.
D. Hasil lahan marine
Berbicara
mengenai bentuk lahan hasil proses geomorfik (erosi marine), akan terikat pada
pantai. Indonesia yang memiliki garis pantai yang jumlahnya puluhan ribu
kilometer (60.000 km), yang mengelilingi belasan ribu pulau atau sekitar 15.700
pulau (Suprapto, 1997: 75). Berdasarkan kenyataan yang ada, maka jelaslah bahwa
pantai di Indonesia harus sudah mendapat perhatian serta menegemen pengelolaan
yang baik, jika tidak ingin pantai yang ada dalam kondisi yang memperihatinkan.
Daerah pantai berdasarkan morfologinya, daerah pantai di kelompokkan ke dalam 4
macam, yaitu:
a. Pantai bertebing terjal
(cliff) b. Pantai
bergisik
c. Pantai berawa
payau
d. Pantai berterumbu karang.
1. Pantai bertebing terjal (cliff)
Pantai bertebing terjal merupakan bentuklahan hasil bentukan
erosi marin yang paling banyak terdapat. Bentukan dan roman cliff berbeda satu
dengan yang lainnya, karena dipengaruhi oleh struktur batuan, dan jenis batuan
serta sifat batuan. Cliff pada batuan beku akan lain dengan cliff pada batuan
sedimen. Pelapisan batuan sedimen misalnya akan berbeda dengan pelapisan yang
miring dan pelapisan mendatar. Sebatas daerah di atas ombak, umumnya tertutup
oleh vegatasi, sedangkan bagian bawahnya umumnya berupa singkapan batuan.
Aktivitas pasang surut dan gelombang mengikis bagian tebing, sehingga membentuk
bekas-bekas abrasi seperti:
a. Tebing (cliff),
b. Tebing bergantung (notch),
c. Rataan gelombang pasang surut
Pada daerah bertebing terjal, pantai biasanya berbatu (rocky
beach) berkelok-kelok dengan banyak terdapat gerak massa batuan (mass
movement rockfall type). Proses ini mnyebabkan tebing bergerak mundur (slope
retreat) khususnya pada pantai yang proses abrasinya aktif. Apabila batuan
penyusun daerah ini berupa batuan gamping atau batuan lain yang banyak memiliki
retakan (joints) air dari daerah pedalaman mengalir melalui sistem
retakan tersebut dan muncul di daerah pesisir dan daerah pantai. Di Indonesia
pantai bertebing terjal ini banyak terdapat di bagian Barat Pulau Sumatera, pantai
Selatan Pulau Jawa, Sulawesi, dan pantai Selatan pulau-pulau Nusa
Tenggara.Tebing bergantung (nocth) juga merupakan cliff, hanya saja pada
bagian tebing yang dekat dengan permukaan air laut melengkung ke arah darat,
sehinggi pada tebing tersebut terdapat relung.
Relung terjadi sebagai akibat dari benturan gelombang yang
secara terus menerus ke dinding tebing. Manakala atap relung tersebut tidak
kuat, maka tebing tersebut akan runtuhdan tebing menjadi rata kembali dan di
depan pantai terdapat banyak material berupa blok-blok atau bongkah-bongkah
dengan berbagai ukuran.Rataan gelombang pasang surut pada pantai bertebing
terjal ini merupakan suatu zona yang tekadang terendam air laut pada saat
pasang naik dan terkadang kering pada saat air laut surut. Rataan gelombang
pasang surut ini sering juga merupakan beach dengan meterial yang bisa
berupa material halus sampai kasar yang tergangtung pada kekuatan gelombang
yang bekerja pada tebing pantai. Di bawah rataan pasang surut ini ada yang
berupa bidang yang lebih keras terkadang terdapat material beach yang disebut
dengan Plat form.
2. Pantai bergisik
Pantai bergisik ini pada dasarnya merupakan daerah pasang
surut yang terdapat endapan material hasil abrasi. Material ini dapat berupa
material halus dan juga bisa berupa material yang kasar. Seperti dalam Gambar
4-4 terlukis adanya gisik pada pantai cliff dengan material kasar sebagai hasil
dari abrasi tebing. Namun pantai bergisik tidak saja terdapat pada pantai
cliff, tetapi juga bisa terdapat pada daerah pantai yang landai. Pada pantai
yang landai material gisik ini kebanyakan berupa pasir, dan sebagaian kecil
berupa meterial dengan butiran kerikil sampai yang lebih besar. Pada umumnya
material pasir suatu gisik pantai berasal dari daerah pedalaman yang di bawah
air sungai ke laut, kemudian diendapkan oleh arus laut sepanjang patai. Gisik
seperti ini dapat dijumpai di sekitar muara sungai.
3.
Pantai berawa payau
Rawa payau juga mencirikan daerah pantai yang tumbuh atau
akresi (accretion). Proses sedimentasi merupakan penyebab bertambahnya
majunya pantai ke arah laut. Material penyusun umumnya berbutir halus dan medan
ini berkembang pada lokasi yang gelombangnya kecil atau terhalang serta dengan
kondisi air laut yang relatif dangkal. Karena airnya payau, maka daerah ini
kemungkinan untuk pengemabangannya sangat terbatas. Rawa payau ini pada umumnya
ditumbuhi oleh tumbuhan rawa payau seperti bakau, nipah, dan tumbuh-tumbuhan
rawa lainnya yang hidup di air payau. Tumbuhan bakau ini dapat berfungsi
sebagai pemecah gelombang dan sebagai penghalang pengikisan di pantai,
sebaliknya sedimentasi bisa terjadi. Oleh karena itu pantai mengalami akresi.
Peranan bakau di dalam merangsang pertumbuhan pantai terbukti jelas jika
bakaunya hilang/mati, ditebang habis, maka yang terjadi adalah sebaliknya yaitu
pantai mengalami erosi. Pada pantai yang mengalami akresi, umumnya terdapat
urutan (squence) tumbuhaan yang ada yaitu bakau yang paling depan,
dibelakangnya nipah, tumbuhan rawa air tawar/lahan basah. Batas teratas dari
bakau adalah setinggi permukaan air pasang maksimum. Permukaan air pasang
tertinggi terjadi pada saat pasang purnama (pada saat bulan purnama) dan pasang
perbani (pada saat bulan gelap/bulan mati).
4.
Pantai berterumbu karang.
Terumbu karang (coral reef) terbentuk oleh aktivitas
binatang karang dan jasad renik lainnya. Proses ini terjadi pada areal-areal
yang cukup luas. Bird (1970: 190-193) pada intinya menyatakan bahwa binatang
karang dapat hidup dengan beberapa persyaratan kondisi yaitu:
a. Air
jernih
b. Suhu tidak lebih dari 18 oC
c. Kadar garam antara 27 – 38 ppm d. Arus
laut tidak deras
Terumbu karang yang banyak muncul ke permukaan banyak
terdapat di kepulaua Indonesia. Pada pulau-pulau karang yang terangkat umumnya
banyak terdapat endapan puing-puing dan pasir koral di lepas pantainya. Ukuran
butiran puing dan pasir lebih kasar ke arah datanganya ombak/gelombang jika
gelombang tanpa penghalang. Proses tektonik sering berpengaruh pula terhadap
terumbu karang. Atol adalah hasil kombinasi proses binatang karang dengan
proses tektonik yang berupa subsiden.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Proses
perkembangan daerah pantai sangat dipengaruhi oleh kedalaman laut. Semakin
dangkal laut maka akan semakin mempermudah terjadinya bentang alam daerah
pantai, dan semakin dalam laut maka akan memperlambat proses terjadinya bentang
alam di daerah pantai. Klasifikasi pantai yang didasarkan pada perubahan
relatif tinggi permukaan air laut, menjadi 4 jenis pantai, yaitu: a) pantai
submergen (Shoreline of submergence), b) pantai emergen (Shoreline of
emergence), c) pantai netral (Neutral Shoreline), d) Pantai majemuik
(Compound Shoreline). Dan bentuk lahan yang dihasilkan dikelompokkan
menjadi 4 jenis yaitu: a) Pantai bertebing terjal (cliff), b) Pantai bergisik, c. Pantai berawa payau, d. Pantai
berterumbu karang.
DAFTAR PUSTAKA
Sugiyanto,
Drs. I Gede.2003.Geomorfologi umum 1.Lampung: Program Studi Pendidikan
Geografi Univ. Lampun
Gian Raditya, 6, 2012. “Bentuk lahan Marine”.
Diakses dari http://blogs.unpad.ac.id pada
tanggal 27 februari 2014 jam 23:11

wah bgus bnget inponya
BalasHapus